Lagi seneng bernostalgia, tanda penuaan?
Edisi kali ini akan berisi semacam review alias ulasan…tentang apa? Hmm…setelah diingat-ingat, ternyata saya sudah lumayan banyak mengganti hape.
Yang pertama adalah hape Motorola T190, yang biasanya disebut “tigo”. Sejarahnya sudah sedikit saya bahas di tulisan sebelumnya. Quite interesting, no? Hehehe… hape mungil itu saya beli tanggal 15 Juni 2002, cukup memenuhi harapan saya saat itu. Saya waktu itu pengen hape yang ada antenanya karena dulu pernah denger katanya hape tanpa antena memancarkan radiasi yang lebih besar daripada hape berantena. Terlepas dari benar atau tidaknya kabar yang saya dengar itu, menurut saya [waktu itu] antenna adalah ‘identitas’ dari sebuah hape. What is a cellphone with no antenna? Hihihi… Kriteria lain dalam memilih hape waktu itu adalah layar yang lebar dan tombol yang banyak dan tidak terlalu kecil. Kenapa begitu? Rasanya ga enak aja gitu kalo layarnya sempit, harus menggulir ketika membaca sms. Tombol yang banyak karena saya waktu itu lagi seneng-senengnya ngoprek, kayanya seru gitu kalo tombolnya banyak, menantang :p Kalo soal ukuran tombol ya demi kenyamanan saja, tapi sayangnya hape pertama saya itu tombolnya kecil-kecil. Untunglah tombol-tombol yang mungil itu tidak menyusahkan, masih bisa diajak balapan pas ngetik sms, hehe…
Satu fitur favorit saya di hape mungil itu adalah komposer. Tidak seperti hape lain yang menampilkan angka-angka dan huruf-huruf ketika mengarang musik, hape tigo ini menampilkan komposer dalam format not balok. Saya bisa bebas berekspresi karena bisa mengarang lagu yang cukup panjang. Rentang nadanya pun lebar, bisa beberapa oktaf dengan ketukan yang bervariasi. Saya bisa menghabiskan waktu seharian demi menyusun lagu Bond di hape itu. Rasanya sangat menyenangkan dan memuaskan jika sudah berhasil menyusun not-not sesuai lagu yang diinginkan.
Entah kenapa hape tigo ini hanya bisa mengirimkan 153 karakter per sms walaupun bisa mengetik sms sepanjang 765 karakter. Bete sih kalo udah nulis panjang-panjang trus ternyata yang kekirim cuma bagian pertamanya aja, jadinya saya lebih memilih mengirim sms maksimal 153 karakter dengan si tigo.
Permainan yang sering saya mainkan adalah Snake, semua pasti tau dong. Saya memainkan itu kalo lagi bete di tengah keramaian. Permainan lainnya saya sudah lupa.
Hape ini punya fitur grup yang dapat diatur agar suara panggilan dan smsnya berbeda antara satu grup dengan yang lainnya.
Yang ga enak adalah kalo ada sms masuk dan ga langsung dibuka pada saat layar menampilkan “Baca?” dia akan langsung menampilkan menu idle dengan gambar amplop di atas. Pas ngecek sms jadinya ga ketauan yang ngirim smsnya siapa sebelum pesannya dibaca. Terus waktu itu ada masalah dengan baterainya yang dropey alias gampang abis, apalagi jika menggunakan menu getar. Akhirnya saya mengatur hape itu tanpa getar demi menghemat baterai, akibatnya banyak telepon dan sms yang terlewat karena ga kerasa getarannya. But I wasn’t so popular, so it was not a big deal, hehe…
Soal volume suara, agak kurang. Masih kurang nyaring dibandingkan dengan hape Nokia yang saya tahu, siasatnya adalah dengan memasang nada-nada tinggi untuk deringnya. Tapinya jadi rada ‘gandeng’ dan mengganggu ketika berada di ruangan tertutup dan sepi. Yah, resiko itu mah.
Mungkin ini adalah hape yang paling lama mengabdi kepada saya karena saya baru bisa mengganti hape tiga tahun kemudian ketika saya baru mendapat rapel gaji CPNS, hihi…
Uang rapel gaji CPNS selama 4 bulan hanya bersisa sedikit gara-gara terlalu bernafsu untuk membeli hape baru. Waktu itu saya pengen hape model lipat dengan antena [teteeeep…what’s a cellphone with no antenna, right?]. Rapel gaji itu keluar waktu saya lagi sakit typhus bulan Juni 2005. Beberapa hari setelah saya menerima uang rapel, saya langsung berburu hape ke BEC. Susah juga ternyata mencari hape lipat sesuai keinginan dengan anggaran yang agak dipaksakan :p Akhirnya berhasil kena lobi oleh penjual hape untuk membeli LG G7100 seharga 2,1 juta rupiah. Sangat di luar rencana karena anggaran saya waktu itu di bawah dua juta rupiah [ya pantes aja susah nemu hape lipat dengan harga sesuai anggaran :p]. Lagi-lagi, kakak yang pernah mensponsori tigo mau membantu, kali ini sih sifatnya pinjaman. Emang pinter banget deh tuh penjual hape promosinya. Fiturnya cukup lengkap. Ada kamera, dapet kabel data, gantungan hape, dan handsfree. Layarnya bisa diputer, supaya bisa keliatan kalo mau motret diri sendiri. Kameranya kurang bagus sih, entah sayanya yang emang ga bisa makenya. Hasil fotonya jarang banget yang sesuai harapan.
Nada deringnya format midi dan bisa ditambah dari CD. Cuma kabel datanya belum USB, melainkan serial. Tapi ga masalah karena komputernya memang masih menyediakan serial port. Katanya ada inframerah tapi kayanya ga berfungsi [soalnya waktu beli lupa ngetes]. Tapi ga masalah juga karena waktu itu masih belum banyak yang punya infrared di hapenya. Hape ini ga ada fasilitas komposer, jadi harus puas dengan lagu-lagu yang tersedia di CD.
Hape LG ini punya Java Application, bisa maksimal penggunaannya if only I knew how to use it, especially for internet, wew… Dulu belum ngerti cara inetan pake hape ato pake Java Application, jadinya fitur itu agak disia-siakan. MMS aja salah seting, jadinya bete. Padahal kalo tau caranya pasti saya ga bakal melepas hape itu demi Sony Ericsson J210i atas pertimbangan simplicity. Yeah, dulu rasanya kurang tenang punya hape seharga dua jutaan. Takut ilang, takut rusak. Tadinya saya tidak berniat untuk menjual si LG karena masih ingin mengutak-atik. Tapi waktu itu kakak ipar saya tertarik, sayapun menjualnya dengan harga yang sangat murah. Saking murahnya, saya sampe lupa berapa. Oya, si tigo juga saya berikan kepada si kakak supporter untuk usahanya berjualan pulsa.
Dengan pertimbangan kesimpelan dan ketenangan batin, saya mengganti si LG dengan si J210i tanggal 21 Agustus 2006, harganya hampir 600 ribu rupiah. Jauh banget kan? Memang hape standar, saya hanya pengen bisa nelpon, sms, dan mms. Ada inframerah tapi jarang dipake. Ada komposer tapi kurang nyaman karena sangat terbatas, tidak bisa seheboh tigo dalam berekspresi. Lama-lama ga betah juga, sayapun mulai melihat-lihat hape lain dari situs Sony Ericsson. Ada beberapa kandidat dan akhirnya memutuskan untuk membeli K510i pada bulan Maret 2007.
Kamera bagus walaupun belum disertai lampu kilat, resolusi cukup tinggi. Memori lumayan dibandingkan J210i. Ada Java, bisa mp3, bisa video, ada inframerah, gigibiru, kabel data, tapi sayang ga dapet handsfree. Harganya 1,2 juta rupiah. Fasilitas lebih oke dibanding si LG, tapi kalo desain sih lebih suka LG, lebih berkelas gitu deh rasanya, hihi… K510i bisa digunakan sebagai modem untuk koneksi internet di komputer. Baterai cukup awet seperti dua hape sebelumnya. Volume suara kurang nyaring, sama seperti J210i, entah saya yang bolot ya :p Getaran masih kalah dari Nokia, seperti dua hape sebelumnya juga.
K510i hanya punya dua macam alarm, yaitu alarm berulang yang dapat dipilih hari-harinya, dan alarm yang hanya berbunyi satu kali pengaturan saja. Buku telepon dilengkapi dengan kalender pengingat ulang tahun yang akan berbunyi pada tanggal ulang tahun teman pukul 9 pagi.
Tahun 2006 mulai banyak bermunculan operator selular, GSM dan CDMA. Tahun 2007 saya mulai tertarik untuk ikut-ikutan punya hape dua, GSM dan CDMA. Awalnya sih karena di rumah mulai pake Flexi. Jadi demi menghemat biaya telepon, sayapun membeli nomor Flexi dengan hape Nokia 6016 pada bulan Agustus 2007. Sebenarnya saya sangat menghindari untuk memiliki hape dengan merk Nokia, tapi saat itu baru Nokia saja yang bisa diandalkan untuk CDMA [at least that’s what my instinct told me :p]. Hapenya tebel banget, males bawanya apalagi jarang bunyi. Beberapa bulan kemudian saya pun berniat untuk menggantinya dengan merk lain walaupun agak sulit menemukan hape CDMA murah dengan fitur standar sekalipun.
Ketika saya sedang mencari pengganti si Nokia, Flexi sedang mengadakan promo hape injek. Merknya ga jelas, tapi modelnya bagus-bagus. Ada model lipat dan geser. Harganya hanya 250 ribu rupiah sudah termasuk nomor Flexi yang sudah diinjeksikan. Sayapun tergoda untuk membeli hape model lipat dengan merk yang ga jelas itu. Nomornya kemudian dipindah ke kartu dan dibeli oleh kakak saya bersama dengan si Nokia seharga 200 ribu rupiah. Nomor saya diinjeksikan ke dalam hape ga jelas itu. Hape ga jelas ini di bagian depannya terdapat tulisan “CDMA” [sepertinya bukan ini merknya] dan “UNIQUE” [mungkin ini merknya, tapi....], di bagian dalamnya terdapat tulisan “anycall” [mungkin ini juga merknya, tapi...]. Setelah tanpa sengaja dapat membuka casing depan, voila! Ada tulisan “SAMSUNG”.

Si hape ga jelas, merknya apa ya?
Saya hanya bertahan kurang dari satu bulan dengan hape itu. Saya merasa kerepotan untuk membawa dua hape sekaligus, tidak praktis. Lagipula kedua hape saya itu jarang sekali bersuara, rasanya buang-buang tenaga. Saya kemudian menjual hape itu kepada kakak ipar saya beserta nomornya dengan harga 200 ribu rupiah. Ternyata hape ga jelas itu hanya dapat mengetik 50 karakter per sms. Dan ketika ada sms masuk, nomor pengirim kadang-kadang tidak muncul sehingga kakak ipar saya kebingungan untuk membalas ke mana.
Setelah beberapa bulan kembali berhape tunggal, saya pun kembali merasakan perlunya memiliki nomor CDMA [Ah, betapa plinplannya saya :p] dan sayapun tertarik untuk membeli hape Nexian FP333 yang dijual satu paket dengan nomor Flexi pada saat digelar promo di Carrefour bulan Agustus 2008. Harganya 200 ribuan rupiah, lupa tepatnya berapa, ada ratusan rupiah di belakangnya. Hape standar tapi lumayan berwarna, tipis dan ringan. Sangat jauh lebih praktis dibandingkan si Nokia.
Saya bertahan dengan duet K510i dan FP333, sampai 10 Mei 2009 yang lalu saya memutuskan untuk meringkas dua nomor hape dalam Nexian NX 250D seharga 1,5 juta rupiah. Memori eksternalnya 512 MB, ada mp3player, kamera foto, video, rekam suara, modem, handsfree, baterai cadangan. Belum ngoprek-ngoprek, baru modem CDMA aja yang berhasil jalan di komputer tapi udah bisa WAP GPRS dan CDMA. Baterai agak kurang awet dibandingkan Sony Ericsson, mungkin karena harus mendukung dua frekuensi, apalagi jika digunakan untuk mendengarkan musik atau menyalakan video. Volume suara cukup nyaring, getaran lumayan terasa tapi dasar memang saya yang kurang perasaan sepertinya :p Saya sering melewatkan sms walaupun hape sedang berada di dalam saku rok terutama jika sedang berada di tempat umum. Handsfreenya kurang klop di telinga, suka lepas-lepas.
K510i masih jadi hak milik saya, lumayan lah kalo pengen ceting pake hape masih bisa dipake soalnya NX250D ga ada Javanya. Kalo FP333… sudah berpindah tangan ke ibu saya karena beliau bete dengan tebalnya Nokia 6016 yang beliau punya sebelumnya.
Pfiuh…udah ah segitu aja, ternyata ga panjang-panjang amat ah. Keburu cape :p